TUGAS SOFTSKILL
MAKALAH PEREKONOMIAN INDONESIA
DISUSUN OLEH :
RIMA MUTIARA RIZQIA
( 29214409 )
1EB33
PROGRAM STUDI PEREKONOMIAN INDONESIA
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
KALIMALANG
2015
DAFTAR ISI
Daftar
Isi ....................................................................................................................................................
1
Bab
I. Sistem Ekonomi Indonesia
......................................................................................................
2
A. Pengertian Sistem
.....................................................................................................................
2
B. Sistem Ekonomi Dan
Sistem Politik ...................................................................................
3
C. Kapitalisme Dan
Sosialisme
..................................................................................................
4
D. Persaingan Terendah
...............................................................................................................
7
Bab
II. Sejarah Ekonomi Indonesia
...................................................................................................
11
A. Sejarah Era Kolonialisme
.......................................................................................................
11
B. Sistem Ekonomi Kapitalis
Liberal
.......................................................................................
15
C. Era Kedudukan Jepang
...........................................................................................................
20
D. Ekonomi Indonesia Setiap
Periode Pemerintahan
Orla, Orba, Reformasi
.............................................................................................................
30
Bab
III. Pertumbuhan Dan Perubahan Struktur Ekonomi
....................................................... 41
A. Produk Domestik Bruto (
PDB ) ...........................................................................................
41
B. Pertumbuhan Dan
Perubahan Struktur
Ekonomi
........................................................................................................................................
48
C. Pertumbuhan Ekonomi
Selama Orba
Hingga Saat ini
...........................................................................................................................
51
D. Faktor Faktor Penentu
Prospek Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia
...................................................................................................................
56
Daftar Pustaka
...........................................................................................................................................
58
1
BAB I. SISTEM EKONOMI INDONESIA
A.
Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah
suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan
bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk
mencapai suatu tujuan. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan
suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Sistem
juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam
suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti
negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain
seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana
yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.
Kata
"sistem" banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam
forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan
pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian
yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan
di antara mereka.
B.
Sistem Ekonomi Dan Sistem Politik
Sistem ekonomi politik di
negara Indonesia secara normatif legal berada dalam
kategori sosialisme. Naskah dalam klausul ekonomi UUD 1945 mengutamakan
keadilan dan kesejahteraan sosial bukan kesejahteraan orang per orang, bahkan
kekayaan alam dikuasai negara dan menempatkan BUMN secara strategis. Namun
prakteknya pemerintahan orde baru sampai saat ini justru mempraktekkan sistem
kapitalisme. Berbagai bentuk rangsangan diberikan kepada kelompok yang paling
dinamis di dalam masyarakat yaitu kelompok pengusaha untuk melaksanakan proses
produksi dimana faktor modal dan teknologi memegang peranan yang paling
menentukan. Jelasnya format sistem ekonomi politik memiliki ide dasar
kapitalisme atau liberalisme yaitu sistem ekonomi mekanisme pasar di mana peran
negara di kurangi, harga sepenuhnya dikendalikan pada mekanisme pasar. Pada
posisi ini pemilik modal besar dan teknologi maju dapat dipastikan memenangkan
persaingan dan dominasi pada kaum kapitalis.
2
Tentu telah diketahui bersama bahwa ekonomi dan politik merupakan dua disiplin ilmu yang
berbeda yang kemudian dikolaborasikan dan memunculkan istilah ekonomi politik.
Dalam ilmu ekonomi masih mengadopsi pendekatan ilmu eksaks yang biasanya
mengunakan teknikal analisis. Ekonomi dan politik berada ditengah-tengahnya
yang biasanya mengunakan data kualitatif dan data kuantitatif. Namun yang
jelas, ekonomi politik pada hakikatnya adalah melihat hubungan timbal balik
antara kepentingan ekonomi dan kepentingan politik. Akan selalu ada motif yang
mengiringi perjalanan dibalik keduanya. Tidak jarang kita pernah mendengar
besarnya pengaruh politik dalam ekonomi, baik dalam institusi politik
maupun kebijakan pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Kebijakan
publik pemerintah dibidang industri sangat besar pengaruhnya terhadap
perintisan terhadap perkembangan yang biasa disebut Rostow, tahap
tinggal landas, hasil tesis Olson mengatakan bahwa kepolitikan nasional
(Institusioanl sclerosis) di suatu negara menyebabkan merosotnya
rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu.
Indonesia diberikan oleh Sang Maha Pemberi sumber daya
alam yang kaya dan melimpah, budaya lokal hamper di seluruh daerah dan
suku mengenal nilai nilai adi luhung seperti empati, gotong royong, religius,
rela berkorban untuk kepentingan lebih besar, tanpa pamrih, dan menghormati
yang lebih tua. Berbekal nilai nilai adi luhung ini sebenarnya ditata
sedemikian rupa sehingga budaya lokal yang penuh keberagaman menjadi kesatuan
yang utuh. Dominasi negara yang berlebihan adalah refleksi sistem kekuasaan
yang otoriter, sebaliknya demokrasi berlebihan diikuti oleh pembenaran diri
sendiri membuktikan ketidak berdayaan negara menghadapi keanekaragaman dan
dinamika kehidupan sosial. Modal terpenting bangsa adalah aspek manusia sebagai
subyek sekaligus obyek utama pembangunan yang harus dikelola dengan semestinya.
Ditangan bangsa yang berkarakter kokoh segala jenis kekayaan dan aset yang
dimiliki niscaya bisa dikelola secara optimal demi sebesar besarnya kemakmuran
rakyat.
Tetapi rakyat Indonesia masih kurang bersahabat dengan
kemapanan, padahal dalam ideologinya disebutkan bahwakekayaan negera
dipergunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat, dimana letak kesalahan
sistem yang kita bangun? Relatif sulit semua yang di kelolah pemerintah
maju, hampir rata-rata perusahan badan usaha negara rugi dan sulit untuk
berkembang, PLN dan pertamina, krakatau still.
3
Nasionalisasi perusahaan tidak mampu menjadikan kita
menjadi bangsa yang mandiri, hampir relatif sedikit sekali badan usaha negara
kita yang bisa bertahan lama, entah kapan atau bisa jadi basok gulung tikar,
ini sangat bahaya ketika ini diambil oleh pasar, maka pengalaman kita ketika
menjual indosat, terbukti sekarang pulsa menjadi mahal, karena harga telah
didominasi oleh swasta, negara seakan tidak berdaya dalam menghadapi ini semua.
Jika kita bandingkan dengan Cina misalnya, sampai
sekarang masih banyak perusaahan negara yang bertahan, dan mampu
mensejahterakan rakyatnya. Indonesia kalau kita lihat
secara sepintas sedang menuju neoliberalisme yang tidak lagi terkontrol.
Sekedar mencontohkan adanya
kepentingan atau motif politik lebih kuat dari magnetekonomi itu sendiri, artinya ekonomi kerakyatan tersandera oleh politik.
Yang membuat RUU migas misalnya di buat oleh Usaid atau bule-bule asing bersama
LSM, dari pihak asing dititipkan kata-kata dibeli untuk kepentingan usaha atau
bisnis mereka, berkembangnya perusahaan asing di Indonesia tentu akan
merugikan dan berbahaya terhadap migas di negeri ini. Sedangkan
naskah dalam klausul ekonomi UUD 1945 mengutamakan keadilan dan kesejahteraan
sosial bukan kesejahteraan orang per orang, bahkan kekayaan alam dikuasai
negara dan menempatkan BUMN secara strategis.
C. Kapitalisme Dan Sosialisme
1. Sistem Ekonomi Sosialisme
Sosialisme
adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup besar
kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur
tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata
kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik,
telekomunikasi, gas lng, dan lain sebagainya.
Sistem
ekonomi sosialisme adalah suatu sistem ekonomi dengan kebijakan atau teori yang
bertujuan untuk memperoleh suatu distribusi yang lebih baik dengan tindakan
otoritas demokratisasi terpusat dan kepadanya perolehan produksi kekayaan yang
lebih baik daripada yang kini berlaku sebagaimana yang diharapkan.
4
Sistem
Sosialis ( Socialist Economy) berpandangan bahwa kemakmuran individu hanya
mungkin tercapai bila berfondasikan kemakmuran bersama.
Sebagai
Konsekuensinya, penguasaan individu atas aset-aset ekonomi atau faktor-faktor
produksi sebagian besar merupakan kepemilikan sosial.
Prinsip
Dasar Ekonomi Sosialisme
- Pemilikan
harta oleh negara
- Kesamaan
ekonomi
- Disiplin
Politik
Ciri-ciri
Ekonomi Sosialisme:
- Lebih
mengutamakan kebersamaan (kolektivisme).
- Peran
pemerintah sangat kuat
- Sifat
manusia ditentukan oleh pola produksi
2.
Sistem Ekonomi Kapitalisme
Kapitalisme
adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap
orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi baang,
manjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya. Dalam sistem ini
pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan
keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga
pemerintah tidak ikut campur dalam ekonomi.
Dalam
perekonomian kapitalisme setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai
dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh
laba sebesar-besarnya. Semua orang bebas malakukan kompetisi untuk memenangkan
persaingan bebas dengan berbagai cara.
Ciri-ciri
sistem ekonomi Kapitalisme :
- Pengakuan
yang luas atas hak-hak pribadi
- Perekonomian
diatur oleh mekanisme pasar
- Manusia
dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar
kepentingann (keuntungan) sendiri
- Paham
individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut
hedonisme)
5
Perbedaan
Konsep Ekonomi Kapitalisme, dan Sosialisme
|
Konsep
|
Kapitalisme
|
Sosialisme
|
|
Sumber
kekayaan
|
Sumber
kekayaan sangat langka( scarcity of resources)
|
Sumber
kekayaan sangat langka( scarcity of resources)
|
|
Kepemilikan
|
Setiap
pribadi di bebaskan untuk memiliki semua kekayaan yang di peroleh nya
|
Sumber
kekayaan di dapat dari pemberdayaan tenaga kerja (buruh)
|
|
Tujuan
Gaya hidup perorangan
|
Kepuasan
pribadi
|
Ke
setaraan penghasilan di antara kaum buruh
|
Jadi,
tabel di atas menerangkan 2 konsep sistem per ekonomian yaitu: Kapitalisme, dan
Sosialisme.
Konsep
dari ekonomi kapitalisme sumber kekayaan itu sangat langka dan harus di peroleh
dengan cara bekerja keras di mana setiap perorangan boleh memiliki kekayaan
yang tiada batas, untuk mencapai tujuan hidupnya. Dalam sistim ekonomi
kapitalisme perusahaan di miliki oleh perorangan. Terjadi nya pasar (market)
dan terjadinya demand and supply adalah ciri khas dari ekonomi kapitalisme.
Keputusan yang diambil atas isu yang terjadi seputar
masalah
ekonomi sumbernya adalah dari kalangan kelas bawah yang membawa masalah
tersebut ke level yang lebih atas.
Dan
konsep ekonomi sosialisme, sumber kekayaan itu sangat langka dan harus di
peroleh lewat pemberdayaan tenaga kerja (buruh), di semua bidang, pertambangan,
pertanian, dan lainnya. Dalam sistem Sosialisme, semua Bidang usaha
dimiliki dan diproduksi oleh Negara. Tidak terciptanya market (pasar) dan
tidak terjadinya supply dan demand, karena Negara yang menyediakan semua
kebutuhan rakyatnya secara merata. Perumusan masalah dan keputusan di
tangani langsung oleh negara.
6
D. Persaingan Terendah
A.PERMASALAHAN
PENDIDIKAN SEKARANG INI
Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tecermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit.
Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tecermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit.
Kualitas
siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, bahkan aturan UU Pendidikan
kacau.
Dampak
dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk.
Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran
pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.
Berbicara tentang anggaran pendidikan ini memang sangat dilematis. Dalam kenyataannya, permasalahan utama sebenarnya bukan pada nilai anggaran saja. Hal ini terbukti bahwa meskipun anggaran kita kurang dari angka 20 persen dari APBN. Tetapi dalam hal ini pemerintah berusaha menaikkan anggaran pendidikan dari tahun ke tahun. Pertanyaannya adalah bahwa, apakah kenaikan anggaran itu telah dapat mendongkrak pencapaian hakikat penyelenggaran pendidikan itu sendiri? Belum lagi adanya berbagai penyalahgunaan anggaran pendidikan, mulai dari masih maraknya pungutan liar dari tingkat perguruan tinggi sampai dengan penyelewengan dana BOS.
Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan angaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pingiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.
Berbicara tentang anggaran pendidikan ini memang sangat dilematis. Dalam kenyataannya, permasalahan utama sebenarnya bukan pada nilai anggaran saja. Hal ini terbukti bahwa meskipun anggaran kita kurang dari angka 20 persen dari APBN. Tetapi dalam hal ini pemerintah berusaha menaikkan anggaran pendidikan dari tahun ke tahun. Pertanyaannya adalah bahwa, apakah kenaikan anggaran itu telah dapat mendongkrak pencapaian hakikat penyelenggaran pendidikan itu sendiri? Belum lagi adanya berbagai penyalahgunaan anggaran pendidikan, mulai dari masih maraknya pungutan liar dari tingkat perguruan tinggi sampai dengan penyelewengan dana BOS.
Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan angaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pingiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.
7
Ada
beberapa masalah utama pendidikan kita saat ini yang perlu dicermati, yaitu
rendahnya kualitas SDM pendidikan dan sistem pendidikan yang kita pakai.
Banyaknya
pelajar Indonesia masih belajar dalam taraf menghafal saja. Dimana hanya
berbekal hafalan tidak membuat tambahnya suatu kecerdasan maupun tambahnya
kedewasaan seseorang.Untuk mengatasi masalah itu, perlu usaha
keras dari pelajar, pangajar, dan pemerintah sebagai pemegang berwenang dan
mengelola dana. Bagaimana agar pelajar dapat mengembangkan potensi yang
dimiliki para anak didik melalui kendali dan kontrol dari guru. Sedangkan
pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana ada upaya agar tercukupi.
Dengan buruknya sarana dan prasarana pendidikan dan kurikulum yang kurang
efektif. Semua itu berasal dari hal yang terpisah-pisah, yaitu sistem
pendidikan dan taraf kemampuan SDM pendidikan.Untuk meningkatkan
alokasi dana pendidikan yang memadai dengan meletakkan pembangunan pendidikan
sebagai perioritas pertama.
Selain
itu dengan meningkatkan kesejahteraan dan penghargaan terhadap peran guru
sebagai pilar utama pendidikan dan pembangunan bangsa.
Posisi
guru dan pendidik harus dihargai sebagai profesi yang mulia. Namun, peningkatan
kesejahteraan guru ini tidak hanya meningkatkan gaji saja, melainkan pada saat
yang sama mutu pendidikan harus lebih meningkat. Tanggung jawab sejauh mana
kontrol guru terhadap murid, terhadap proses belajar mengajar. Apakah anak
didik telah mampu menerima materi yang disampaikan hingga dapat bermanfaat
sebagai bekal hidup dan matinya. Karena itu, sistem penggajian harus dikaitkan
dengan peningkatan kinerja dan kepribadian pengajar.
B. Sumber Daya Manusia Indonesia
Terkait dengan kondisi sumber daya manusia Indonesia yaitu adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta.
Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah.
Terkait dengan kondisi sumber daya manusia Indonesia yaitu adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta.
Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah.
8
Struktur
pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu
sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan
kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di
berbagai sektor ekonomi.
Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang
berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja
terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan
kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada
sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang
terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak
angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000 orang.
Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM.
Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya penguasaan IPTEK, karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus dikedepankan.
Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi. Pada era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi.
Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000 orang.
Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM.
Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya penguasaan IPTEK, karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus dikedepankan.
Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi. Pada era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi.
9
C. Dampak IPTEK Terhadap SDM Indonesia
Pengaruh IPTEK terhadap peningkatan SDM Indonesia
khususnya dalam persaingan global dewasa ini meliputi berbagai aspek dan
merubah segenap tatanan masyarakat. Aspek-aspek yang dipengaruhi, adalah
sebagai berikut :
1. Dampak yang ditimbulkan oleh teknologi dalam era globalisasi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, sangat luas. Teknologi ini dapat menghilangkan batas geografis pada tingkat negara maupun dunia.
2. Aspek Ekonomi.
Dengan adanya IPTEK, maka SDM Indonesia akan semakin meningkat dengan pengetahuan-pengetahuan dari teknologi tersebut. Dengan kemajuan SDM ini, tentunya secara tidak langsung akan mempengaruhi peningkatan ekonomi di Indonesia. Berkaitan dengan pasar global dwasa ini, tidaklah mungkin jika suatu negara dengan tingkat SDM rendah dapat bersaing, untuk itulah penguasaan IPTEK sangat penting sekali untuk dikuasai. Selain itu, tidak dipungkiri globalisasi telah menimbulkan pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat di masa kini akibat pengaruh negatif dari globalisasi.
3. Aspek Sosial Budaya.
Globalisasi juga menyentuh pada hal-hal yang mendasar pada kehidupan manusia, antara lain adalah masalah Hak Asasi Manusia (HAM), melestarikan lingkungan hidup serta berbagai hal yang menjanjikan kemudahan hidup yang lebih nyaman, efisien dan security pribadi yang menjangkau masa depan, karena didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak yang timbul diakibatkannya ikatan-ikatan tradisional yang kaku, atau dianggap tidak atau kurang logis dan membosankan. Akibat nyata yang timbul adalah timbulnya fenomena-fenomena paradoksal yang muaranya cenderung dapat menggeser paham kebangsaan/nasionalisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya tanggapan masyarakat atas kasus-kasus yang terjadi dinilai dengan didasarkan norma-norma kemanusiaan atau norma-norma sosial yang berlaku secara umum (Universal internasional).
1. Dampak yang ditimbulkan oleh teknologi dalam era globalisasi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, sangat luas. Teknologi ini dapat menghilangkan batas geografis pada tingkat negara maupun dunia.
2. Aspek Ekonomi.
Dengan adanya IPTEK, maka SDM Indonesia akan semakin meningkat dengan pengetahuan-pengetahuan dari teknologi tersebut. Dengan kemajuan SDM ini, tentunya secara tidak langsung akan mempengaruhi peningkatan ekonomi di Indonesia. Berkaitan dengan pasar global dwasa ini, tidaklah mungkin jika suatu negara dengan tingkat SDM rendah dapat bersaing, untuk itulah penguasaan IPTEK sangat penting sekali untuk dikuasai. Selain itu, tidak dipungkiri globalisasi telah menimbulkan pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat di masa kini akibat pengaruh negatif dari globalisasi.
3. Aspek Sosial Budaya.
Globalisasi juga menyentuh pada hal-hal yang mendasar pada kehidupan manusia, antara lain adalah masalah Hak Asasi Manusia (HAM), melestarikan lingkungan hidup serta berbagai hal yang menjanjikan kemudahan hidup yang lebih nyaman, efisien dan security pribadi yang menjangkau masa depan, karena didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak yang timbul diakibatkannya ikatan-ikatan tradisional yang kaku, atau dianggap tidak atau kurang logis dan membosankan. Akibat nyata yang timbul adalah timbulnya fenomena-fenomena paradoksal yang muaranya cenderung dapat menggeser paham kebangsaan/nasionalisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya tanggapan masyarakat atas kasus-kasus yang terjadi dinilai dengan didasarkan norma-norma kemanusiaan atau norma-norma sosial yang berlaku secara umum (Universal internasional).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar